Masuk / Daftar
13 Januari 2026
Saat ini, isu keberlanjutan menjadi perhatian utama perusahaan, regulator, investor, dan masyarakat luas. Perusahaan tidak hanya dinilai dari kinerja keuangannya, namun juga dampak aktivitas bisnisnya pada lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG). Kondisi ini mendorong peningkatan kebutuhan terhadap laporan keberlanjutan (sustainability report) yang transparan, dapat dibandingkan, dan kredibel. Untuk menjamin kualitas dan konsistensi laporan keberlanjutan, terdapat beberapa standar dan kerangka kerja internasional yang bisa digunakan. Apa saja standar-standarnya? Yuk kita bahas dalam artikel ini!
1. Global Reporting Initiative (GRI)
Global Reporting Initiative (GRI) merupakan salah satu standar pelaporan keberlanjutan yang paling terkenal dan banyak digunakan di dunia. GRI dirancang untuk membantu organisasi melaporkan dampak ekonomi, lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) secara lengkap pada para pemangku kepentingan (tidak hanya investor). Laporan yang disusun sesuai GRI akan menunjukkan kontribusi organisasi pada pembangunan berkelanjutan secara global dan lokal Fokus utama GRI, antara lain dampak keberlanjutan organisasi terhadap lingkungan dan masyarakat, prinsip materialitas yang luas (stakeholder materiality), serta laporan yang dapat dibandingkan antar sektor dan negara
2. Task Force on Climate-related Financial Disclosures (TCFD)
TCFD merupakan kerangka kerja pengungkapan informasi yang fokus pada resiko dan peluang terkait perubahan iklim dalam konteks keuangan perusahaan, terutama yang relevan bagi investor dan pemangku kepentingan finansial. Standar ini dibentuk oleh Financial Stability Board (FSB) sebagai respon terhadap meningkatnya tekanan terhadap transparansi resiko iklim.
Empat pilar utama TCFD, antara lain:
TCFD sering dianggap bagian dari basis IFRS S2 karena terdapat beberapa unsur TCFD yang diintegrasikan ke dalam standar ISSB.
3. IFRS Sustainability Disclosure Standards (IFRS S1 & S2)
Standar IFRS S1 dan S2 merupakan bagian dari usaha global untuk menciptakan standar pelaporan keberlanjutan yang konsisten dan relevan secara finansial, terutama bagi investor. Standar ini diterbitkan oleh International Sustainability Standards Board (ISSB) dalam kerangka IFRS Sustainability Disclosure Standards.
Perbedaannya dengan GRI adalah standar ini berfokus pada materialitas finansial, sedangkan pendekatan GRI lebih luas dalam konteks pemangku kepentingan. IFRS S1 dan S2 sudah berlaku dan mulai mempengaruhi praktek pelaporan keberlanjutan perusahaan global sejak 2024.
4. SASB (Sustainability Accounting Standards Board)
SASB Standards memberikan standar pelaporan keberlanjutan yang spesifik berdasarkan industri, membantu perusahaan mengidentifikasi isu-isu ESG yang benar-benar berdampak secara finansial menurut sektor bisnisnya. SASB kini masuk dalam struktur ISSB untuk menguatkan basis standar global. Standar ini berfokus pada aspek materialitas finansial. Selain itu, industrinya spesifik sehingga praktis untuk pengungkapan ke investor.
5. CSRD-ESRS (European Sustainability Reporting Standards)
CSRD/ESRS merupakan standar pelaporan yang ditetapkan oleh Uni Eropa dan bersifat wajib bagi perusahaan tertentu yang beroperasi di wilayah Uni Eropa. ESRS mencakup berbagai topik ESG secara rinci, termasuk iklim, keanekaragaman hayati, dan dampak sosial. Karakteristik utama ESRS adalah materialitas ganda (double materiality), yaitu melihat dampak terhadap perusahaan dan dampak perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat
6. Standar & Framework Lainnya yang Umum Dipakai
Selain standar-standar di atas, terdapat beberapa standar lain yang sering dipakai sebagai pedoman atau pelengkap dalam sustainability reporting, antara lain:
Penyusunan laporan keberlanjutan yang berkualitas memerlukan pedoman yang jelas agar informasi yang disajikan relevan, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Berbagai standar dan kerangka kerja internasional, seperti GRI, TCFD, IFRS S1 dan S2, SASB, serta CSRD-ESRS, hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan fokus dan pendekatan yang berbeda. Perusahaan harus memahami karakteristik masing-masing standar agar dapat memilih atau menggabungkannya dengan tepat sesuai tujuan pelaporan, regulasi yang berlaku, dan kebutuhan para pemangku kepentingan. Dengan demikian, laporan keberlanjutan yang disusun benar-benar menunjukkan komitmen perusahaan pada praktek bisnis yang berkelanjutan.
Referensi:
De Villiers, C., La Torre, M., & Molinari, M. (2022). The Global Reporting Initiative’s (GRI) Past, Present and Future: Critical reflections and a research agenda. Pacific Accounting Review. https://www.researchgate.net/publication/360255236_The_Global_Reporting_Initiative's_GRI_Past_Present_and_Future_Critical_reflections_and_a_research_agenda_on_sustainability_reporting_standard-setting
Benvenuto, Marco., Aufiero, Chiara., Viola, Carmine. (2023). A systematic literature review on the determinants of sustainability reporting systems. Heliyon. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S240584402302100X
Pratama, A. et al. (2024). Sustainability Reporting Ecosystem and IFRS S1 & S2. Journal of Ecohumanism. https://www.researchgate.net/publication/383449462_Sustainability_Reporting_Ecosystem_and_IFRS_S1_and_S2_How_Accounting_Research_can_assist_its_Implementation
IFRS. (n.d). Introduction to the ISSB and IFRS Sustainability Disclosure Standards. https://www.ifrs.org/sustainability/knowledge-hub/introduction-to-issb-and-ifrs-sustainability-disclosure-standards/
(Nadine)
X
Populer