Masuk / Daftar
16 Januari 2026
Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) merupakan seperangkat mekanisme formal dan informal yang dirancang untuk memastikan bahwa perilaku dan keputusan individu dalam organisasi sesuai dengan tujuan strategis organisasi. Pengendalian manajemen berfungsi untuk meminimalkan control problems, yaitu kondisi ketika karyawan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, tidak mau melakukan apa yang seharusnya dilakukan, atau tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, organisasi dapat menggunakan beberapa jenis control, antara lain:
1. Results Control (Pengendalian Hasil)
Results control adalah jenis pengendalian yang berfokus pada hasil akhir (outcomes) dari aktivitas karyawan, bukan pada proses atau tindakan spesifik yang mereka lakukan. Dalam pendekatan ini, manajemen menetapkan target kinerja yang jelas, mengukur pencapaian aktual, dan memberikan penghargaan atau sanksi berdasarkan tingkat pencapaian tersebut.
Results Control terdiri dari 4 elemen:
Results control efektif jika hasil dapat diukur dengan baik dan individu memiliki kebebasan dalam menentukan cara mencapai target. Namun, control ini beresiko menyebabkan perilaku menyimpang seperti manipulasi angka, orientasi jangka pendek (myopia), dan pengabaian aspek non-keuangan jika sistem pengukurannya tidak dirancang dengan baik.
2. Action Control (Pengendalian Tindakan)
Action control berfokus pada pengendalian perilaku atau tindakan spesifik yang dilakukan oleh karyawan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa tindakan yang diambil sesuai dengan kepentingan organisasi dan mencegah terjadinya perilaku yang menyimpang atau tidak diinginkan.
Bentuk-Bentuk Action Control:
Action control efektif jika manajemen mengetahui tindakan apa yang seharusnya dilakukan dan mampu mengamati atau memverifikasinya. Namun, control ini dapat menimbulkan biaya yang tinggi, mengurangi fleksibilitas, dan menurunkan kreativitas jika penerapannya terlalu ketat.
3. Personnel Control (Pengendalian Personel)
Personnel control bertujuan untuk memastikan bahwa organisasi memiliki orang yang tepat, dengan kompetensi dan motivasi yang sesuai, sehingga mereka secara alami akan bertindak sesuai dengan tujuan organisasi.
Mekanisme Personnel Control:
Personnel control bersifat preventif karena mengurangi kemungkinan terjadinya control problems sejak awal. Control ini relatif fleksibel dan biayanya lebih rendah dalam jangka panjang, namun sering kali hasilnya tidak langsung terlihat.
4. Cultural Control (Pengendalian Budaya)
Cultural control menekankan pada pembentukan nilai, norma, dan keyakinan bersama yang mempengaruhi perilaku anggota organisasi. Dalam sistem ini, pengendalian terjadi melalui internalisasi nilai, bukan melalui aturan formal saja.
Bentuk Cultural Control:
Cultural control sangat kuat karena dapat mengarahkan perilaku tanpa pengawasan yang ketat. Akan tetapi, pembentukannya membutuhkan waktu lama dan sulit diubah jika lingkungan bisnis mengalami perubahan signifikan.
Keempat jenis control diatas bukan pilihan yang saling menggantikan, tetapi saling melengkapi. Organisasi yang efektif biasanya menggabungkan berbagai jenis control sesuai dengan strategi, lingkungan, dan karakteristik sumber daya manusianya. Dengan desain SPM yang seimbang dan kontekstual, manajemen dapat meningkatkan kinerja organisasi dan meminimalkan resiko perilaku menyimpang.
Referensi:
Merchant, K. A., & Van der Stede, W. A. (2017). Management Control Systems. (4th ed.). Pearson Education.
(Nadine)
X
Populer