Masuk / Daftar
05 Januari 2026
Di tengah meningkatnya kesadaran global pada isu lingkungan, sosial, dan tata kelola, perusahaan tidak lagi hanya dinilai dari kinerja keuangannya saja. Publik dan investor juga menaruh perhatian besar terkait bagaimana perusahaan menjalankan operasionalnya secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, laporan keberlanjutan hadir sebagai sarana komunikasi strategis yang mengungkapkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari aktivitas bisnis perusahaan. Melalui laporan keberlanjutan, perusahaan dapat menunjukkan komitmennya pada prinsip keberlanjutan dan membangun kepercayaan para pemangku kepentingan.
Laporan keberlanjutan adalah dokumen yang berisi pengungkapan kinerja non-keuangan perusahaan, termasuk kebijakan, metodologi, dan indikator dampak terhadap lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, Governance) atau ESG yang disampaikan kepada para pemangku kepentingan seperti investor, pelanggan, regulator, dan masyarakat umum. Laporan ini juga sering disebut sustainability report dan menunjukkan komitmen organisasi pada pembangunan berkelanjutan dan transparansi operasionalnya.
Membuat laporan keberlanjutan memberikan banyak manfaat bagi organisasi, seperti:
Meningkatkan Manajemen Resiko: Perusahaan dapat mengenali dan mengatasi potensi resiko yang muncul dari dampak sosial dan lingkungan.
Meningkatkan Kepercayaan Stakeholder: Transparansi informasi keberlanjutan memperkuat hubungan perusahaan dengan investor, pelanggan, dan masyarakat.
Menunjang Keputusan Investasi: Investor kini semakin memperhatikan laporan ESG sebelum menanamkan modal, sehingga laporan keberlanjutan dapat menarik investor baru.
Meningkatkan Efisiensi dan Inovasi: Dengan mengukur dampak operasional, perusahaan dapat menemukan peluang untuk lebih efisien dan berinovasi dalam praktek bisnis berkelanjutan.
Laporan keberlanjutan umumnya terdiri dari beberapa bagian penting, seperti:
Informasi Umum Perusahaan: Menjelaskan profil perusahaan, visi, misi, struktur organisasi, produk/jasa, dan lokasi operasional.
Dampak Lingkungan: Mengungkapkan pengelolaan sumber daya, emisi karbon, penggunaan energi dan air, pengelolaan limbah, serta upaya perlindungan lingkungan.
Aspek Sosial: Mencakup kebijakan tenaga kerja, kesehatan dan keselamatan kerja, kegiatan community engagement, keberagaman dan inklusi, serta hubungan dengan masyarakat sekitar.
Aspek Tata Kelola (Governance): Meliputi struktur pengawasan, etika bisnis, mekanisme pengendalian resiko, kebijakan anti-korupsi, dan transparansi dalam pengambilan keputusan.
Standar Untuk Menyusun Laporan Keberlanjutan
Beberapa standar atau framework yang umumnya digunakan untuk menyusun laporan keberlanjutan, antara lain:
GRI (Global Reporting Initiative): Standar pelaporan yang paling banyak digunakan secara internasional untuk menyusun laporan keberlanjutan.
POJK 51/2017 (OJK Indonesia): Peraturan OJK yang mewajibkan lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik untuk menyusun laporan keberlanjutan.
ESG Guidelines: Berbagai panduan internasional terkait aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan.
IFRS Sustainability Disclosure Standards (IFRS Sx): Standar pelaporan keberlanjutan yang dikembangkan oleh International Sustainability Standards Board (ISSB) di bawah IFRS Foundation, dan bertujuan untuk menyelaraskan pengungkapan informasi keberlanjutan yang relevan secara finansial dan terintegrasi dengan laporan keuangan, khususnya melalui:
IFRS S1: mengatur persyaratan umum pengungkapan informasi keberlanjutan yang berdampak pada kinerja keuangan perusahaan.
IFRS S2: khusus mengatur pengungkapan resiko dan peluang terkait perubahan iklim.
Saat ini, banyak negara, termasuk Indonesia, sedang dalam tahap adopsi dan konvergensi menuju standar IFRS Sx sebagai upaya meningkatkan konsistensi, transparansi, dan keterbandingan laporan keberlanjutan secara global.
Laporan keberlanjutan merupakan instrumen penting bagi perusahaan untuk mewujudkan transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab jangka panjang. Dengan menyajikan informasi terkait aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, perusahaan tidak hanya memenuhi tuntutan regulasi dan ekspektasi pemangku kepentingan, namun juga memperkuat daya saingnya di tengah dinamika bisnis modern. Oleh sebab itu, penyusunan laporan keberlanjutan harus dijadikan sebagai bagian dari strategi bisnis yang berorientasi pada nilai keberlanjutan.
Referensi:
Krantz, Tom., Jonker, Alexandra. (n.d). Apa yang dimaksud dengan laporan keberlanjutan?. IBM. Diakses pada 5 Januari 2026, dari: https://www.ibm.com/id-id/think/topics/sustainability-report
Coursera. (2025, 27 November). Sustainability Reporting: Components, Uses, and Benefits. Diakses pada 5 Januari 2026, dari: https://www.coursera.org/articles/sustainability-reporting
IFRS. (n.d). Introduction to the ISSB and IFRS Sustainability Disclosure Standards. Diakses pada 5 Januari 2026, dari: https://www.ifrs.org/sustainability/knowledge-hub/introduction-to-issb-and-ifrs-sustainability-disclosure-standards/
(Nadine)
X
Populer