Fenomena Brainrot dan Bagaimana cara menghadapinya
18 Mei 2026
3
Suka
Dulu, membaca buku selama berjam-jam terasa normal. Kita bisa tenggelam dalam satu topik, menikmati proses berpikir, bahkan merasa puas ketika berhasil memahami sesuatu yang rumit. Namun sekarang, banyak orang mulai merasakan perubahan, membaca beberapa halaman buku saja, rasanya lebih sulit. Fenomena ini sering disebut sebagai brainrot (perubahan kondisi otak ketika kehilangan toleransi terhadap proses berpikir dalam). Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada otak kita? Yuk Simak Artikel berikut!
Latar belakang
Perkembangan teknologi dan sosial media mendorong konsumsi penggunaan smartphone bagi penggunanya. Beragam jenis video disajikan untuk memuaskan pengguna, termasuk platform video pendek seperti Tiktok, Youtube short, dan Instagram yang dirancang untuk mempertahankan perhatian selama mungkin. Berbeda dengan Long video, Konten video pendek (Short Video) muncul dengan cepat, baru, dan unpredictable sehingga memberikan stimulasi instan pada otak karena terus berpindah perhatian setiap beberapa detik, stimulasi ini bahkan dikatakan “terlalu cepat” karena tidak memberi ruang bagi otak manusia untuk diam, merenung, atau memproses secara mendalam informasi yang datang secara bersamaan dengan acak. Pada saat otak manusia menjadi terbiasa dengan konsumsi short poor video inilah yang mendorong fenomena Brainrot (Götzfried & Heitmayer, 2026)
Sinyal Brainrot
Sejumlah penelitian mulai menunjukkan bahwa konsumsi short-form content berlebihan dapat mempengaruhi fungsi kognitif, terutama terkait perhatian (attention span) dan kontrol impuls.
Beberapa pola yang sering ditemukan:
Lebih sulit mempertahankan fokus pada tugas panjang
Lebih mudah terdistraksi
Meningkatnya perilaku kompulsif dalam membuka aplikasi
Berkurangnya kemampuan reflektif dan kontemplatif
Otak lebih terbiasa mencari stimulasi cepat daripada pemahaman mendalam
Ironisnya, semakin sering seseorang mengonsumsi konten cepat untuk “menghibur diri”, semakin sulit otaknya menikmati aktivitas lambat seperti membaca buku, menulis, atau berpikir mendalam. Selain itu, temuan dari Jiang & Ma (2024) juga mendukung bahwa fenomena doom scrolling pada short video, mendorong menurunkan kemampuan berpikir analitik serta berpotensi meningkatkan stress karena kebutuhan kompulsif yang harus dipenuhi.
Berita baiknya, otak manusia memiliki kemampuan yang disebut neuroplasticity, yaitu kemampuan untuk berubah dan beradaptasi kembali. Jika otak bisa dilatih untuk terbiasa dengan stimulasi cepat, maka otak juga bisa dilatih kembali untuk fokus mendalam.
Tips mengurangi dampak Brainrot
Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan:
1. Kurangi stimulasi ekstrem
Tidak harus langsung menghapus semua media sosial. Mulailah dengan mengurangi konsumsi video pendek secara sadar dengan cara membatasi waktu scrolling, menghindari membuka aplikasi saat bangun tidur dan memberi jeda tanpa layar setiap hari.
2. Latih fokus secara bertahap
Mulai membaca beberapa halaman buku dengan durasi yang bertahap, minggu pertama 5 menit lalu 10 menit dan terus bertambah seiring waktu. Tujuannya bukan langsung produktif, tetapi membangun ulang toleransi otak terhadap proses lambat.
3. Biasakan boredom
Mencoba untuk tidak bergantung pada smartphone dan refleksi, contohnya seperti duduk tanpa membuka HP, berjalan tanpa audio atau makan tanpa scrolling (Mindful eating).
Kesimpulannya, permasalahan kita sebenarnya bukan karena kita menjadi malas atau bodoh, tetapi karena otak kita sedang beradaptasi terhadap dunia yang terlalu cepat. Setiap aplikasi berlomba memperebutkan fokus manusia. Dan perlahan, kemampuan untuk diam, membaca, dan berpikir mendalam mulai terasa asing. Akan tetapi, belum terlambat untuk berubah. Mulai dari hal kecil dengan memperbaiki diri dan jadilah 1% lebih baik dari hari sebelumnya.
Di Akuntansi UBAYA, terdapat mata kuliah Mindfulness dan MPD, Jika kamu tertarik, Yuk kunjungi website kami di akuntansiubaya.id dan jadi bagian dari School of Accounting UBAYA!
Referensi:
Götzfried, A., & Heitmayer, M. (2026). Making sense of nonsense: A qualitative investigation of how brainrot content serves generation Z’s media needs. Computers in Human Behavior: Artificial Humans, 7, 100255. https://doi.org/10.1016/j.chbah.2026.100255
Jiang, Q., & Ma, L. (2024). Swiping more, thinking less: Using TikTok hinders analytic thinking. Cyberpsychology: Journal of Psychosocial Research on Cyberspace, 18(3), Article 1. https://doi.org/10.5817/CP2024-3-1
-Intan
×
Facebook
WhatsApp
X
LinkedIn
Copy Link
Kategori Kabar
Akreditasi
Alumni
Dosen
Internasionalisasi
Kegiatan
Prestasi Mahasiswa
U M U M
Kategori Kabar
Nama Kategorix
Akreditasi
Alumni
Dosen
Internasionalisasi
Kegiatan
Prestasi Mahasiswa
U M U M
Populer
Penelitian Kualitatif vs Kuantitatif: Kamu Tim Yang Mana?
24 Mei 2026
Campus Hiring PwC di UBAYA: Membuka Peluang Karier Mahasiswa
23 Mei 2026
Fenomena Brainrot dan Bagaimana cara menghadapinya
18 Mei 2026
Perencanaan Pajak: Strategi Efisiensi Beban Pajak Perusahaan
15 Mei 2026
Ini Dia Tips Agar Sukses Mengimplementasikan Strategi!