Akuntansi di Tengah Krisis Global: Bagaimana Perang Mengubah Praktek Pelaporan Keuangan?
24 Januari 2026
17
Suka
Perang atau konflik geopolitik besar tidak hanya berdampak pada ekonomi makro, namun juga menantang praktek pelaporan keuangan maupun akuntansi perusahaan secara langsung. Ketika tingkat ketidakpastian meningkat, standar akuntansi harus disesuaikan untuk menggambarkan tingkat resiko, nilai aset yang berubah, dan kemungkinan kegagalan usaha (going concern) bagi perusahaan yang terkena dampak. Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana krisis global, khususnya konflik seperti invasi Rusia ke Ukraina, mempengaruhi praktek pelaporan keuangan dan tantangan akuntansi yang muncul.
Krisis Global dan Isu Pelaporan Keuangan
1. Ketidakpastian Geopolitik dan Pelaporan Keuangan
Krisis geopolitik meningkatkan resiko akuntansi yang terdiri dari pengukuran, pengungkapan, dan kepatuhan standar. Penelitian menunjukkan bahwa konflik seperti perang, sanksi ekonomi, dan perubahan regulasi dapat memperburuk resiko pelaporan dan mengurangi keandalan informasi keuangan yang disajikan bagi para pemangku kepentingan.
2. Pandangan Akademik tentang Krisis dan Akuntansi
Dalam penelitian tentang dampak konflik antara Rusia dengan Ukraina, ditemukan bahwa ketegangan geopolitik menyebabkan divergensi regulasi, peningkatan kompleksitas pelaporan, dan kebutuhan akan pengungkapan resiko yang lebih besar. Perusahaan merespons dengan menggunakan pendekatan pelaporan yang lebih konservatif dan penekanan pada pengungkapan resiko bagi investor.
Komponen-Komponen Akuntansi yang Terpengaruh oleh Krisis
1. Going Concern
Asumsi going concern merupakan dasar laporan keuangan yang menyatakan bahwa perusahaan akan melanjutkan operasionalnya pada masa yang akan datang. Pada masa krisis atau perang, manajemen harus menilai kembali asumsi ini dengan ketat. Jika ada ketidakpastian yang signifikan, perusahaan harus mengungkapkan hal tersebut dalam laporan keuangan. Penilaian going concern menjadi lebih kompleks karena prospek pendapatan, biaya, dan akses pembiayaan seringnya berubah drastis karena situasi eksternal.
2. Nilai Wajar (Fair Value) dan Penurunan Nilai (Impairment)
Nilai wajar (fair value) semakin penting di tengah volatilitas pasar. Namun, jika kondisi pasar tidak stabil seperti saat krisis global, maka cukup sulit untuk menentukan nilai wajar karena pasar aktif yang representatif tidak selalu tersedia. Pengalaman krisis keuangan sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan fair value dapat mempengaruhi persepsi resiko dan kualitas pelaporan, sehingga menyebabkan debat akademik terkait kelebihan dan batasannya dalam kondisi yang ekstrem. Impairment (penurunan nilai aset) juga menjadi isu penting karena nilai aset bisnis dapat turun dengan cepat karena gangguan operasi, sanksi, atau hilangnya pasar.
3. Pengakuan dan Pengungkapan Resiko Geopolitik
Terdapat penelitian terbaru yang menghubungkan pengungkapan resiko geopolitik dengan kualitas penghasilan (earnings quality) perusahaan, terutama di sektor yang paling terpengaruh seperti perbankan di negara konflik. Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa pengungkapan yang baik dapat membantu investor untuk memahami eksposur perusahaan terhadap resiko eksternal.
Dampak Krisis terhadap Standar Akuntansi
Krisis geopolitik seperti perang dapat memunculkan perbedaan respons regulasi antar yurisdiksi. Contohnya, standar pelaporan keuangan internasional seperti IFRS dan interpretasinya, dapat mengalami perbedaan ketika otoritas setempat menyesuaikan aturan pelaporan untuk melindungi pasar domestik. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa adaptasi standar global dan kolaborasi internasional sangat diperlukan agar pelaporan keuangan tetap transparan meski dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
Implikasi bagi Praktisi Akuntansi
Krisis global ini membuat akuntan menghadapi tantangan dalam menilai nilai wajar yang relevan, mengestimasi kerugian kredit dan cadangan, serta menghadapi permintaan pengungkapan resiko yang terus meningkat. Akuntan memiliki peran penting dalam menjaga transparansi informasi. Oleh sebab itu, akuntan harus memberikan informasi yang dapat diandalkan, mengimplementasikan standar akuntansi dengan pertimbangan resiko realistis, dan mengkomunikasikan ketidakpastian kepada para pemangku kepentingan.
Perang maupun krisis global lainnya mempunyai dampak yang signifikan pada praktek pelaporan keuangan dan akuntansi. Ketidakpastian pasar dan ekonomi membuat para praktisi akuntansi harus melakukan penilaian ulang terhadap asumsi dasar seperti going concern, menyesuaikan penggunaan fair value, dan meningkatkan kualitas pengungkapan resiko. Adaptasi standar dan praktek profesional yang responsif merupakan kunci utama agar dapat menjaga relevansi dan keandalan laporan keuangan di masa krisis, serta menjaga kepercayaan dari para pemangku kepentingan.