Dalam dunia kerja, perkembangan Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah banyak hal. Pekerjaan yang sebelumnya memerlukan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan dalam beberapa menit dengan bantuan teknologi. Kondisi ini membuat orang bertanya-tanya apakah jurusan yang ada saat ini masih relevan dengan kebutuhan dunia kerja di masa depan. Pada tahun 2023, Kementerian Pendidikan China mencatat 1.670 program studi di berbagai perguruan tinggi diajukan untuk ditutup, sedangkan 1.673 program studi baru dibuka untuk menyesuaikan pendidikan tinggi dengan perkembangan ekonomi, kebutuhan industri, dan kebutuhan talenta strategis. Fenomena tersebut menunjukkan pendidikan tinggi harus mampu mempersiapkan mahasiswa menghadapi pekerjaan yang bahkan mungkin belum ada saat mereka lulus. Lantas, bagaimana dengan akuntansi?
Akuntansi Tidak Kebal dengan Perkembangan AI
Akuntansi sering dianggap sebagai bidang yang berkutat dengan angka, pencatatan transaksi, laporan keuangan, dan berbagai pekerjaan administratif. Karena dibantu oleh teknologi, pekerjaan-pekerjaan tersebut menjadi semakin mudah. Saat ini, AI dan automation dapat digunakan untuk membantu berbagai aktivitas seperti klasifikasi transaksi, rekonsiliasi, pemrosesan dokumen, analisis data, dan penyusunan rangkuman informasi keuangan. AI menjadi salah satu faktor yang mengubah cara kerja profesi akuntan. Perubahan tersebut tidak hanya terkait penggunaan teknologi, namun juga perubahan skill yang dibutuhkan oleh para akuntan profesional.
Pekerjaan rutin diperkirakan semakin banyak diotomatisasi, sedangkan peran akuntan akan semakin bergeser ke area seperti judgment, assurance, governance, dan decision support. Artinya, teknologi dapat membantu mengerjakan pekerjaan, namun manusia tetap dibutuhkan untuk memastikan bahwa hasil tersebut dapat dipercaya, dipertanggungjawabkan, dan digunakan dengan tepat. Oleh karena itu, AI tidak membuat akuntan menjadi tidak dibutuhkan, tetapi mengubah cara akuntan bekerja.
Dari Mengolah Angka Menjadi Memahami Angka
Seorang akuntan di masa lalu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memeriksa data, mencocokkan transaksi, membuat rekonsiliasi, hingga menyusun laporan keuangan. Sekarang, sebagian pekerjaan tersebut bisa dibantu oleh software dan AI.Value seorang akuntan tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia memasukkan atau mengolah data, namun menjelaskan arti dari angka-angka yang tertera di laporan dan dampaknya bagi bisnis.
Contohnya, sebuah sistem menemukan biaya perusahaan meningkat 15%. AI mungkin dapat menemukan pola tersebut dalam hitungan detik. Tetapi, manusia tetap dibutuhkan untuk memahami alasanbiaya tersebut meningkat, peningkatan tersebut wajar atau tidak, resikonya, dan keputusan yang sebaiknya diambil oleh manajemen. Di sinilah pentingnya kemampuan berpikir kritis, pemahaman bisnis, professional judgment, komunikasi, dan etika.
Akuntan Masa Depan Membutuhkan Lebih dari Sekadar Kemampuan Akuntansi
Perubahan dunia kerja membuat kompetensi seorang akuntan tidak cukup hanya dari kemampuan teknis akuntansi, tetapi juga harus dikombinasikan dengan human skills dantechnology skills. Berikut adalah beberapa kompetensi yang harus dimiliki seorang akuntan, antara lain:
Accounting knowledge: Pemahaman tentang laporan keuangan, audit, perpajakan, akuntansi manajemen, dan standar akuntansi.
Data analytics: Mampu membaca, mengolah, dan menginterpretasikan data untuk menghasilkan informasi yang berguna bagi pengambilan keputusan.
Technology literacy:Memahami penggunaan AI, ERP, automation, dan berbagai teknologi bisnis.
Critical and analytical thinking:Mampu mempertanyakan, mengevaluasi, dan menginterpretasikan informasi.
Business understanding: Memahami bagaimana perusahaan menghasilkan pendapatan, mengelola biaya, menghadapi resiko, dan menciptakan value.
Communication and collaboration: Mampu mengkomunikasikan hasil analisis kepada manajemen atau pihak lain yang membutuhkan.
Ethics and professional judgment: Mempertimbangkan konsekuensi dari keputusan yang akan diambil, baik secara etis maupun profesional.
Apakah Mahasiswa Akuntansi Harus Bisa Coding?
Mahasiswa akuntansi tidak harus menjadi programmer, tetapi perlu mempunyai technology literacy yang cukup untuk memahami dan memanfaatkan teknologi. Sama seperti munculnya spreadsheet tidak membuat akuntan harus menjadi ahli software engineer, kehadiran AI juga tidak berarti setiap akuntan harus membangun AI dari nol. Yang penting adalah memahami apa yang dapat dilakukan AI, penggunaan AI secara efektif dan memeriksa hasil yang diberikan AI, resiko dan keterbatasannya, serta menjaga keamanan, etika, dan akuntabilitas dalam penggunaannya. Teknologi bukan pesaing bagi akuntan, namun alat yang meningkatkan kemampuan akuntan.
Tidak Hilang, namun Naik Level
Perkembangan teknologi memang mengurangi kebutuhan akan sebagian pekerjaan akuntansi yang bersifat rutin. Tetapi, hal tersebut tidak berarti profesi akuntansi kehilangan masa depan. Hal ini justru menjadi kesempatan bagi akuntan untuk naik level. Jika mesin mampu mengerjakan pekerjaan administratif dan repetitif, manusia bisa lebih fokus pada pekerjaan yang membutuhkan pemahaman, pertimbangan, kreativitas, komunikasi, dan tanggung jawab. AI mungkin dapat membantu membaca angka, namun akuntan tetap dibutuhkan untuk memahami maknanya. Masa depan akuntansi adalah mampu menggunakan AI untuk menjadi akuntan yang lebih adaptif, analitis, strategis, dan bernilai bagi bisnis.